"Yang baik tidak bisa lepas dari keburukan dan yang buruk tetap punya kemungkinan menjadi baik"

- Masa lalu boleh kelam, namun masa depan tak boleh suram (V_2198)-

Sabtu, 26 November 2011

Kue Tar untuk Bunda

Kue Tar untuk Bunda
Oleh : Ervina Rahiem

Kutermangu di depan cermin, sembari tersenyum kupoleskan sedikit blush-on campu ran merah dan coklat di pipiku.
Kalender hari ini menunjuk angka 19 di bulan Juni, berarti besok adalah hari ulang tahun bunda. Ya, 20 Juni, terlintas didalam pikiranku bahwa aku ingin membuat 20 Juni kali ini berbeda untuk bunda. Selama dua puluh tahun tak perah terucap secara langsung dari bibirku rentetan kata selamat ulang tahun untuk bunda, aku hanya mampu menorehkan doa-doa tulus di dalam hati semoga Allah Yang Maha Penyayang selalu menjaga dan menyayangi bunda serta senantiasa menjaga dan memberi kesehatan kepada bundaku tercinta.
Bundaku adalah sosok yang kaku, beliau tak pernah menunjukkan rasa sayangnya dengan  ucapan atau apapun, maka tak heran bila di rumah ini tak pernah kudengar ia memanggil anak-anaknya dengan sebutan “Nak” kecuali pada adikku yang paling bungsu. Bahkan sejak umurku tujuh tahun, tak pernah lagi kudapatkan pelukan hangat ataupun kecupan sayang dari bunda di keningku, pun ketika aku mendapat peringkat satu saat kenaikan kelas dua menuju kelas tiga sekolah dasar. Hingga sekalipun ada yang berulang tahun di rumah ini, tak pernah ada sesuatu yang istimewa dihari itu. Tapi kali ini, aku ingin membuat sesuatu yang berbeda di hari ulang tahun bunda. Aku ingin melepaskan rinduku akan kehangatan cinta kasih bunda yang seolah telah lama hilang.
***

Sepulang kerja di sore Juni bertanggalkan 20, aku memasuki sebuah toko kue di perempatan jalan. Mataku memutar mengitari rak-rak kecil yang dipenuhi kue tar berbagai bentuk.
“Tidak ada yang istimewa, semua sama saja.” gumamku dalam hati sembari memancarkan semburat kekecewaan yang tak dapat kusembunyikan di wajahku. Aku pun beranjak dari toko itu. Seingatku, di sebelah jembatan sana masih ada toko kue lagi.
Cherry Berry, aku tersenyum menatap papan nama toko kue yang bernuansa coklat dan merah jambu itu. Aku berharap akan menemukan kue tar yang kuinginkan disini.
“Mbak, saya ambil yang itu ya? Bukan punya orang kan?” tunjukku pada sebuah opera cake coklat berukuran sedang.
“Oh, bukan mbak. Sama lilinnya sekalian?” jawab si penjaga toko sembari menyodorkan beberapa lilin warna-warni yang kemudian kuambil empat batang.
“Silakan mbak, sembilan puluh lima ribu” ucap mbak itu lagi sembari menyerahkan kue tar yang sudah terbungkus rapi. Aku pun menerima kue seraya menyodorkan uang kertas bernilai seratus ribuan.
“Makasih mbak.” ucapku setelah menerima uang kembalian kemudian beranjak pergi meninggalkan toko.
Dengan sangat hati-hati kubawa kue itu pulang ke rumah dengan harapan bunda akan senang menerimanya. Sesampainya dirumah, dengan mengendap-endap kuletakkan kue tar tersebut dilemari es. Aku ingin menunggu kakak pulang dan berharap seluruh anggota keluarga dapat berkumpul pada saat makan malam nanti.
Tepat jam delapan malam, akhirnya seluruh anggota keluarga yang biasanya sibuk dengan urusannya masing-masing sudah berkumpul di ruang makan, kecuali bunda. Seperti biasa, bunda memang sangat jarang mau makan malam bersama. Bunda telah terbiasa menyendiri dalam melakukan hal apapun termasuk makan.
“Ayolah Bun, sekali ini saja. Sudah lama kan kita tidak makan bersama” bujuk kakak, sementara aku hanya menyiapkan kue tar sembari memasang lilin-lilin kecil untuk memperindah suasana malam itu.
“Selamat ulang tahun bunda...” ucapku sembari meletakkan kue tar di hadapannya saat ia duduk di kursi meja makan. Kulihat bunda tersenyum penuh haru menerima kue dan ucapan itu, kuraih tangan bunda lalu kucium penuh kehangatan.
“Terimakasih Nak.” Bunda mengusap kepalaku dan mengecup keningku hangat. Aku terkesima dengan adegan barusan, selama belasan tahun bunda tak mengucapkan kata itu, “Nak”, apalagi mencium keningku.
Kemudian kakak dan adikku pun melakukan hal yang sama, begitu juga dengan ayah. Suasana malam ini tampak begitu hangat, aku bahagia sekali. I love you bunda.

***
Sepulang kerja di sore Juni bertanggalkan 20, aku memasuki sebuah toko kue di perempatan jalan. Mataku memutar mengitari rak-rak kecil yang dipenuhi kue tar berbagai bentuk.
“Tidak ada yang istimewa, semua sama saja.” gumamku dalam hati sembari memancarkan semburat kekecewaan yang tak dapat kusembunyikan di wajahku. Aku pun beranjak dari toko itu. Seingatku, di sebelah jembatan sana masih ada toko kue lagi.
Cherry Berry, aku tersenyum menatap papan nama toko kue yang bernuansa coklat dan merah jambu itu. Aku berharap akan menemukan kue tar yang kuinginkan disini.
“Mbak, saya ambil yang itu ya? Bukan punya orang kan?” tunjukku pada sebuah opera cake coklat berukuran sedang.
“Oh, bukan mbak. Sama lilinnya sekalian?” jawab si penjaga toko sembari menyodorkan beberapa lilin warna-warni yang kemudian kuambil empat batang.
“Silakan mbak, sembilan puluh lima ribu” ucap mbak itu lagi sembari menyerahkan kue tar yang sudah terbungkus rapi. Aku pun menerima kue seraya menyodorkan uang kertas bernilai seratus ribuan.
“Makasih mbak.” ucapku setelah menerima uang kembalian kemudian beranjak pergi meninggalkan toko.
Dengan sangat hati-hati kubawa kue itu pulang ke rumah dengan harapan bunda akan senang menerimanya. Sesampainya dirumah, dengan mengendap-endap kuletakkan kue tar tersebut dilemari es. Aku ingin menunggu kakak pulang dan berharap seluruh anggota keluarga dapat berkumpul pada saat makan malam nanti.
Tepat jam delapan malam, akhirnya seluruh anggota keluarga yang biasanya sibuk dengan urusannya masing-masing sudah berkumpul di ruang makan, kecuali bunda. Seperti biasa, bunda memang sangat jarang mau makan malam bersama. Bunda telah terbiasa menyendiri dalam melakukan hal apapun termasuk makan.
“Ayolah Bun, sekali ini saja. Sudah lama kan kita tidak makan bersama” bujuk kakak, sementara aku hanya menyiapkan kue tar sembari memasang lilin-lilin kecil untuk memperindah suasana malam itu.
“Selamat ulang tahun bunda...” ucapku sembari meletakkan kue tar di hadapannya saat ia duduk di kursi meja makan. Kulihat bunda tersenyum penuh haru menerima kue dan ucapan itu, kuraih tangan bunda lalu kucium penuh kehangatan.
“Terimakasih Nak.” Bunda mengusap kepalaku dan mengecup keningku hangat. Aku terkesima dengan adegan barusan, selama belasan tahun bunda tak mengucapkan kata itu, “Nak”, apalagi mencium keningku.
Kemudian kakak dan adikku pun melakukan hal yang sama, begitu juga dengan ayah. Suasana malam ini tampak begitu hangat, aku bahagia sekali. I love you bunda.

Sepulang kerja di sore Juni bertanggalkan 20, aku memasuki sebuah toko kue di perempatan jalan. Mataku memutar mengitari rak-rak kecil yang dipenuhi kue tar berbagai bentuk.
“Tidak ada yang istimewa, semua sama saja.” gumamku dalam hati sembari memancarkan semburat kekecewaan yang tak dapat kusembunyikan di wajahku. Aku pun beranjak dari toko itu. Seingatku, di sebelah jembatan sana masih ada toko kue lagi.
Cherry Berry, aku tersenyum menatap papan nama toko kue yang bernuansa coklat dan merah jambu itu. Aku berharap akan menemukan kue tar yang kuinginkan disini.
“Mbak, saya ambil yang itu ya? Bukan punya orang kan?” tunjukku pada sebuah opera cake coklat berukuran sedang.
“Oh, bukan mbak. Sama lilinnya sekalian?” jawab si penjaga toko sembari menyodorkan beberapa lilin warna-warni yang kemudian kuambil empat batang.
“Silakan mbak, sembilan puluh lima ribu” ucap mbak itu lagi sembari menyerahkan kue tar yang sudah terbungkus rapi. Aku pun menerima kue seraya menyodorkan uang kertas bernilai seratus ribuan.
“Makasih mbak.” ucapku setelah menerima uang kembalian kemudian beranjak pergi meninggalkan toko.
Dengan sangat hati-hati kubawa kue itu pulang ke rumah dengan harapan bunda akan senang menerimanya. Sesampainya dirumah, dengan mengendap-endap kuletakkan kue tar tersebut dilemari es. Aku ingin menunggu kakak pulang dan berharap seluruh anggota keluarga dapat berkumpul pada saat makan malam nanti.
Tepat jam delapan malam, akhirnya seluruh anggota keluarga yang biasanya sibuk dengan urusannya masing-masing sudah berkumpul di ruang makan, kecuali bunda. Seperti biasa, bunda memang sangat jarang mau makan malam bersama. Bunda telah terbiasa menyendiri dalam melakukan hal apapun termasuk makan.
“Ayolah Bun, sekali ini saja. Sudah lama kan kita tidak makan bersama” bujuk kakak, sementara aku hanya menyiapkan kue tar sembari memasang lilin-lilin kecil untuk memperindah suasana malam itu.
“Selamat ulang tahun bunda...” ucapku sembari meletakkan kue tar di hadapannya saat ia duduk di kursi meja makan. Kulihat bunda tersenyum penuh haru menerima kue dan ucapan itu, kuraih tangan bunda lalu kucium penuh kehangatan.
“Terimakasih Nak.” Bunda mengusap kepalaku dan mengecup keningku hangat. Aku terkesima dengan adegan barusan, selama belasan tahun bunda tak mengucapkan kata itu, “Nak”, apalagi mencium keningku.
Kemudian kakak dan adikku pun melakukan hal yang sama, begitu juga dengan ayah. Suasana malam ini tampak begitu hangat, aku bahagia sekali. I love you bunda.

“Sempuna...” gumamku dalam hati. Setelan jas berwarna putih tulang siap menemani aktivitas kerjaku hari ini. Sesaat mataku tersirat pada sebuah kalender cantik yang duduk manis di pojok meja riasku.
Top of Form
Bottom of Form

4 komentar:

  1. komentar untuk cerpen ini akan diposting di grup fb Komunitas Penakita. :)

    BalasHapus
  2. Sip...makasih udah mampir :)

    BalasHapus
  3. sdh diposting, bisa dicek.... :)

    BalasHapus
  4. Udah dicek...itu yang judul katanya ga usah dikasih tanda petik ngutip darimana bro?dari email penakita ya?

    BalasHapus

Syukron sudah meninggalkan pesan di blog ini. ^_^